Sabtu, 31 Desember 2016

Filsafat: Pertanyaanku Untuk Aku



      Waktu terus berganti. Untuk Tahun 2016, terima kasih Ya Allah engkau berikan ku kesempatan untuk tetap hidup di dunia Mu. Naik-turunnya iman, suka-dukanya perasaan dan naik-turunnya mental telah ku alami sepanjang tahun 2016 ini.
      Membahas mengenai Filosofi Kehidupan tentu banyak sekali pertanyaan-pertanyaan yang akan terlontar dari setiap sudut bibir tiap-tiap manusia. Pertanyaan yang terlontar merupakan renungan terhadap diri sendiri atas eksistensi diri di atas muka bumi ini. Mulai dari pertanyaan siapa aku, darimana aku berasal, untuk apa aku di ciptakan, mau kemana aku setelah ini.
Sebagai kajian awal dalam merefleksikan diri, saya mencoba untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan yang paling mendasar dan tidak pernah habis oleh jaman dan telah lama mengutuk di dalam pikiran setiap orang.

Siapa aku?
Aku adalah salah satu manusia yang telah lahir di muka bumi ini. Bumi adalah salah satu planet yang ada di galaksi bima sakti. Planet itu hijau dan kabarnya hanya satu-satunya planet yang di huni oleh manusia.
Lalu siapa manusia itu?
Dalam ilmu mantiq (logika) manusia disebut sebagai Al-Insanu hayawanun nathiq (manusia adalah binatang yang berfikir). Nathiq sama dengan berkata-kata dan mengeluarkan pendapatnya berdasarkan pikirannya. Sebagai binatang yang berpikir manusia berbeda dengan hewan. Walau pada dasarnya fungsi tubuh dan fisiologis manusia tidak berbeda dengan hewan, namun hewan lebih mengandalkan fungsi-fungsi kebinatangannya, yaitu naluri, pola-pola tingkah laku yang khas, yang pada gilirannya fungsi kebinatangan juga ditentukan oleh struktur susunan syaraf bawaan.
Menurut Aristoteles yang merupakan seorang filosof besar Yunani mengemukakan bahwa manusia adalah hewan yang berakal sehat, yang mengeluarkan pendapatnya, yang berbicara berdasarkan akal-pikirannya. Juga manusia adalah hewan yang berpolitik (zoonpoliticon, political animal), hewan yang membangun masyarakat di atas famili-famili menjadi pengelompokkan yang impersonal dari pada kampung dan negara. Manusia berpolitik karena ia mempunyai bahasa yang memungkinkan ia berkomunikasi dengan yang lain. Dan didalam masyarakat manusia mengenal adanya keadilan dan tata tertib yang harus dipatuhi. Ini berbeda dengan binatang yang tidak pernah berusaha memikirkan suatu cita keadilan.

   Setelah mengenal aku sebagai manusia, kita akan beralih ke pertanyaan selanjutnya yaitu,
Darimana manusia berasal?
Dalam kajian metafisika, akan ditemukan teori yang memandang bahwa keberadaan sesuatu dibalik atau di belakang fisik. Dalam teori ini manusia dipandang dari dua hal yakni: a.) Fisik, yang terdiri dari zat, artinya bahwa manusia tercipta terdiri dari beberapa sel, yang dapat di indera dengan panca indera. b) Ruh, manusia identik dengan jiwa yang mencakup imajinasi, gagasan, perasaan dan penghayatan semua itu tidak dapat diindera dengan panca indera. Namun saya lebih tetarik membahas darimana manusia berasal dari fisiknya.
   Secara biologis eksistensi aku sebagai manusia berasal dari campuran sel sperma dari laki-laki dan sel ovum dari perempuan yang selanjutnya terjadi pembuahan dalam rahim perempuan dan dengan proses tertentu (baca : proses tercipta manusia ) dan dengan waktu tertentu serta takdir yang sudah di atur oleh Allah SWT, maka terlahirlah "aku" manusia baru dalam dunia ini.
Intinya yang mau saya katakan disini adalah saya sudah tidak lagi memperdebatkan dari Manusia berasal seperti yang disampaikan melalui Teori Evolusi Darwin, Karena bagi saya masalah ini sudah Final bahwa ada sebab Mutlak yang menciptakan Manusia dan itu adalah Tuhan.

Lalu untuk apa manusia diciptakan?
Apakah guna nya mereka diciptakan?
   Pada pertayaan kali ini, saya mengkaitkan dalam ranah Agama. Lebih tepatnya agama Islam yang merupakan agama yang saya anut sejak saya di ciptakan. Dari Abi Hurairah ra. bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Setiap anak dilahirkan dalam keadaan fitrah, kecuali orang tuanya yang menjadikannya Yahudi, Nasrani atau Majusi.” (HR Bukhari). Dan saya sangat bersyukur karena kedua orang tua saya beragama Islam, sehingga setelah saya lahir saya tetap beragama islam, agama yang di ridhoi oleh Allah swt.
  
Maka Allah menjelaskan dalam Firman-Nya melalui Al-Quran yang Artinya  “ Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepadaKu.” (adz-Dzariyat: 56).
Jika Allah menciptakan "Aku" hanya semata-mata beribadah kepadanya, maka kenapa kita harus melakukan Aktivitas lain selain beribadah ? Kenapa Kita Harus Belajar, Sekolah, bekerja, dan lain-lain?
Karena sesungguhnya Allah telah menciptakan manusia dengan Akal nya untuk berfikir dan berfikir membutuhkan ilmu pengetahuan lain. Maka dari itu setiap aktivitas yang baik, akan di hitung sebagai ibadah oleh Allah seperti belajar, membantu orang tua dan lain-lain. Intinya pengetahun lain untuk memahami Alquran, agar bisa  kita tahu secara persis mana yang betul-betul menjadi perintah-Nya dan mana yang menjadi larangan-Nya.

Lalu, Mau kemana manusia setelah ini?
   Dalam Alquran Allah Firman yang artinya “ Maka apakah kamu mengira, bahwa Sesungguhnya kami menciptakan kamu secara main-main (saja), dan bahwa kamu tidak akan dikembalikan kepada Kami?(QS Al-Mukminun ayat 115)
   Dari Firman tersebut dapat dipahami bahwa Setelah Kehidupan di Dunia maka ada Kehidupan selanjutnya yang harus kita jalani. 
Lantas berapa lama lagi kita dapat hidup di dunia ini ? 
Lantas masih berapa lama lagi kita hidup di dunia selanjutnya ? 
Dalam Islam, kita percaya akan kehidupan setelah mati. Yang dimaksud kehidupan setelah mati dalam Islam bukanlah seperti yang kita jalani di dunia ini, bukan juga sebuah reinkarnasi. Namun yang dimaksud kehidupan setelah mati dalam Islam adalah kehidupan yang akan dijalani dengan kekal abadi di akhirat. Namun, sebelum menuju kehidupan kekal di akhirat sekarang ini kita hidup di dunia ini. Dan di dunia ini kita diperintahkan oleh Allah SWT untuk beribadah dan berbuat amal baik, karena hal itu akan bermanfaat di akhirat kelak. Untuk itu, sebelum kita menuju akhirat sangat penting bagi kita untuk berlomba-lomba dalam kebaikan, baik dalam hal ibadah maupun yang lainnya. Selain itu, kita juga harus mentaati apa yang diperintahkan Allah dan Rasul-Nya serta menjauhi segala yang dilarang dan diharamkan-Nya. Karena hal itu dapat menyelamatkan kita di hari pembalasan kelak, karena setelah mati ada banyak tahapan dan perjalanan yang akan kita lalui dan tahap-tahap perjalanan manusia setelah mati akan dimulai dari berbagai tahap yaitu, a) alam kubur, b) hari kebangkitan, c) padang mahsyar, d) hisab, e) melewati jembatan sirath f) surga/neraka.
Dan pertanyaan terakhir, mengapa aku mempertanyakan ini?
Setelah saya yakin bahwa benar ada kehidupan setelah kematian di dunia ini, mengapa saya yang terpilih untuk hidup di dunia ini, maka kita sebagai salah satu manusia yang terpilih, perlu tahu apa yang harus kita siapkan sebagai bekal diakhirat nantinya. Semoga apa yang dapat saya sampaikan kali ini dapat merefleksikan diri, sebagai makhluk Tuhan dan dapat melaksanakan perintah yang sudah di tetapkan oleh Tuhan Yang Maha Esa.

Sabtu, 24 Desember 2016

Aliran Filsafat Matematika

ALIRAN-AlIRAN DALAM FILSAFAT MATEMATIKA


Filsafat adalah studi tentang seluruh fenomena kehidupan dan pemikiran manusia secara kritis dan dijabarkan dalam konsep mendasar. Filsafat tidak didalami dengan melakukan eksperimen-eksperimen dan percobaan-percobaan, tetapi dengan mengutarakan masalah secara persis, mencari solusi untuk itu, memberikan argumentasi dan alasan yang tepat untuk solusi tertentu. Akhir dari proses-proses itu dimasukkan ke dalam sebuah proses dialektika. Untuk studi falsafi, mutlak diperlukan logika berpikir dan logika bahasa.
 
Logika merupakan sebuah ilmu yang sama-sama dipelajari dalam matematika dan filsafat. Hal itu membuat filasafat menjadi sebuah ilmu yang pada sisi-sisi tertentu berciri eksak di samping nuansa khas filsafat, yaitu spekulasi, keraguan, rasa penasaran dan ketertarikan. Filsafat juga bisa berarti perjalanan menuju sesuatu yang paling dalam, sesuatu yang biasanya tidak tersentuh oleh disiplin ilmu lain dengan sikap skeptis yang mempertanyakan segala hal. Aliran besar yang mempengaruhi perkembangan matematika, termasuk perkembangan pendidikan matematika, yakni:
 
Aliran Idealisme
 
Istilah idealisme yang menunjukkan suatu pandangan dalam filsafat belum lama dipergunakan orang. Namun demikian, pemikiran tentang ide telah dikemukakan oleh Plato sekitar 2.400 tahun yang lalu. Menurut Plato, realitas yang fundamental adalah ide, sedangkan realitas yang tampak oleh indera manusia adalah bayangan dari ide tersebut. Bagi kelompok idealis alam ini ada tujuannya yang bersifat spiritual. Hukum-hukum alam dianggap sesuai dengan kebutuhan watak intelektual dan moral manusia. Mereka juga berpendapat bahwa terdapat suatu harmoni yang mendasar antara manusia dengan alam. Manusia memang bagian dari proses alam, tetapi ia juga bersifat spiritual, karena manusia memiliki akal, jiwa, budi, dan nurani.
Kelompok yang mengikuti pandangan ini cenderung menghormati kebudayaan dan tradisi, sebab mereka mempunyai pandangan bahwa nilai-nilai kehidupan itu memiliki tingkat yang lebih tinggi dari sekadar nilai kelompok individu. Ini menunjukkan bahwa kekuatan idealisme terletak pada segi mental dan spiritual kehidupan.
 
Aliran Fondasionalime 
 
Fondasionalisme berpendapat bahwa suatu justifikasi itu mundur sampai tidak terhingga itu tidak masuk akal. Begitu pula dengan pola yang berputar. Dia juga berpendapat bahwa dalam suatu kepercayaan-kepercayaan ini ada suatu kepercayaan yang logis dengan sendirinya. Jenis-jenis kepercayaan yang logis dengan sendirinya ini merupakan dasar dari kepercayaan-kepercayaan yang lainnya. Karena kepercayaan kepada sebuah fondasi dari kepercayaan maka paham ini disebut sebagai Fondasionalisme.
Kepercayaan-kepercayaan ini yang menjadi dasar dari kepercayaan-kepercayaan lainnya adalah sebuah kepercayaan yang sangat berbeda dengan kepercayaan-kepercayaan lainnya. Ini karena kepercayaan ini tidak membutuhkan justifikasi. Banyak Fondasionalis berkesimpulan bahwa fondasi ini terdapat pada kepercayaan yang subjek langsung bisa mengaksesnya seperti  “aku merasakan sesuatu” atau “1+1=2” yang langsung bisa ditangkap. Fondasionalis ada juga yang mempercayai seseorang bisa langsung menangkap setidaknya beberapa objek fisik dan kepercayaan mengenai objek yang sedang diamati sebagai juga termasuk fondasi.
 
Aliran Formalisme.
 
Landasan matematika formalisme dipelopori oleh ahli matematika besar dari Jerman David Hilbert. Menurut airan ini sifat alami dari matematika ialah sebagai sistem lambang yang formal, matematika bersangkut paut dengan sifat-sifat struktural dari symbol-simbol dan proses pengolahan terhadap lambing-lambang itu. Simbol-simbol dianggap mewakili berbagai sasaran yang menjadi obyek matematika. Bilangan-bilangan misalnya dipandang sebagai sifat-sifat struktural yang paling sederhana dari benda-benda.
 
Aliran Intuitionisme
 
Aliran intuitionisme yang dipelopori oleh ahli matematik dari Belanda yaitu Luitzen Egbertus Jan Brouwer, be;iau berpendirian bahwa matematika adalah sama dengan bagian yang eksak dari pemikiran matematika. Ketetapan matematika terletak dalam akal manusia dan tidak pada symbol-simbol di atas kertas. Selanjutnya intuisionis menyatakan bahwa obyek segala sesuatu termasuk matematika, keberadaannya hanya terdapat pada pikiran kita, sedangkan secara eksternal dianggap tidak ada.
Dalam pemikiran intuitionisme matematika berlandaskan suatu dasar mengenai kemungkinan untuk membangun sebuah seri bilangan yang tak terbatas sebuah seri bilangan yang tak terbatas, pernyataan ini pada hakikatnya merupakan suatu aktivitas berfikir tang yang tak tergantung pada pengalaman, bebas dari bahasa dan simbolis, serta bersifat obyektif.
 
Keberatan terhadap aliran ini adalah bahwa pandangan kaum intuitisme tidak memberikan gambaran yang  jelas tentang bagaimana matematika bekerja dalam pikiran. Kita tidak mengetahui secara tepat pengetahuan intuitif bekerja dalam pikiran. Seperti halnya cinta dan benci dalam pandangan setiap orang berbeda-beda. 
 
SUMBER
 

Metode Filsafat

           Metode dan filsafat mempunyai hubungan erat, karena secara tidak langsung filsafat membutuhkan metode untuk mempermudah dalam berfilsafat. Untuk mempelajari filsafat ada tiga macam metode: 
1) metode sistematis, 2) metode historis, dan 3) metode kritis menggunakan filsafat/pemikiran lain.
Menggunakan metode sistematis, berarti seseorang menghadapi dan mempelajari karya filsafat. Misalnya mula-mula ia menghadapi teori pengetahuan yang terdiri atas beberapa cabang filsafat, setelah itu ia mempelajari teori hakikat yang merupakan cabang lain. Kemudian ia mempelajari teori nilai atau filsafat tatkala membahas setiap cabang atau cabang itu, aliran-aliran akan terbahas. Dengan belajar filsafat melalui metode ini perhatiannya terpusat pada isi filsafat, bukan pada tokoh atau pun periode.
Adapun metode historis digunakan apabila seseorang mempelajari filsafat dengan cara mengikuti sejarah, terutama sejarah pemikiran. Metode ini dapat dilakukan dengan membicarakan tokoh demi tokoh menurut kedudukannya dalam sejarah, misalnya dimulai dari membicarakan filsafat Thales beserta riwayat hidupnya, pokok ajarannya dalam teori pengetahuan, teori hakikat, maupun dalam teori nilai. Lantas setelah mengetahui Thales dari mulai pemikiranya, dilanjutkan lagi membicarakan tokoh selanjutnya, misalnya Heraklitus, Pramendes, Sokrates, Demokritus, Plato, dan tokoh-tokoh lainnya.
Metode kritis digunakan oleh orang yang mempelajari filsafat tingkat intensif. Pengguna metode ini haruslah sedikit-banyak telah memiliki pengetahuan filsafat, langkah pertama dengan memahami isi ajaran, kemudian mengajukan kritiknya. Kritik itu dapat menggunakan pendapatnya sendiri atau pun orang lain.
SUMBER
 
Idi, Abdullah dan Jalaluddin (2007). Filsafat Pendidika:Manusia, Filsafat dan Pendidikan. Jogjakarta:

Ar-Ruzz Media.Keraf, A. Sonny dan Mikhael Dua (2001) Ilmu Pengetahuan, sebuah tinjauan filosofis. Yogyakarta: Kanisiu

Ajaran Sang Filsuf Plato



Plato membedakan filsafat atas tiga bagian sebagai berikut:

1.                  Dialektika: Tentang idea-idea atau pengertian-pengertian umum
2.                  Fisika: tentang dunia materiil
3.                  Etika: tentang kebaikan.

1)                 Ajaran Tentang Idea-idea
Ajaran tentang idea-idea merupakan inti dan dasar seluruh filsafat Plato. Baginya, Idea merupakan sesuatu yang objektif. Ada idea-idea terlepas dari subjek-subjek yang berfikir. Idea-idea tidak diciptakan oleh pemikiran kita. Idea tidak bergantung pada pemikiran, sebaliknya pemikiran tergantung pada idea-idea.Justru karena ada idea-idea yang berdiri sendiri, pemikiran kita dimungkinkan. Pemikiran itu tidak lain daripada menaruh perhatian kepadaidea-idea itu.

Plato meneruskan usaha Socrates (menentukan hakekat atau esensi sesuatu) dengan melangkah lebih jauh lagi. Menurutnya, esensi itu mempunyai realitas, terlepas dari segala perbuatan konkrit. Idea keadilan, Idea keberanian, dan idea lain memang ada.

Menurut Plato, ada dua macam dunia, yaitu dunia ini yang mencakup benda-benda jasmani yang disajikan kepada pancaindera. Pada taraf ini, harus diakui bahwa semuanya tetap berada dalam perubahan. Dunia yang kedua yaitu dunia idea, dunia yang terdiri dari idea-idea, dimana tiada perubahan, tiada kejamakan (bahwa yang baik hanya satu, yang adil hanya satu) dan beraifat kekal.

Hubungan antara kedua dunia itu adalah bahwa idea-idea dari dunia atas itu hadir dalam benda yang konkrit (seperti idea manusia berada pada tiap manusia, dan seterusnya) dan bahwa sebaliknya benda-benda itu berpartisipasi dengan idea-ideanya, artinya mengambil bagian dari idea-ideanya.

Anggapan Plato tentang dua dunia menjuruskan juga pendiriannya tentang ’pengenalan’. Menurut Plato ada dua jenis pengenalan. Di satu pihak ada pengenalan tentang idea-idea. Itulah pengenalan dalam arti yang sebenarnya. Rasio adalah alat untuk mencapai pengenalan. Dan ilmu pengetahuan adalah lapangan istimewa dimana pengenalan itu dipraktekkan. Dengan menerima pengenalan yang bersifat teguh, jelas, dan tidak berubah, Plato serentak juga menolakrelativisme kaum Sofis. Bagi Protagoras dan pengikutnya manusia adalah ukuran dalam bidang pengenalan, sedangkan bagi Plato, ukuran itu adalah idea-idea.Berdasarkan idea-idea itu menjadi mungkin kebenaran yang mutlak.

Pengenalan yang kedua adalah pengenalan tentang benda-benda jasmani yang dicapai dengan pancaindera. Plato menamakannya ’doxa’ (opinion atau pendapat). Dengan demikian, Plato dapat mendamaikan ajaran Herakleitos dan Parmenides. Herakleitos berpendapat bahwa semuanya senantiasa dalam perubahan sedang pendapat Parmendeis yang berbanding terbalik dengan Heraklietos. 

Dalam Politeia, ia mengatakan bahwa antara idea-idea terdapat suatu orde atau hirarki. Seluruh hirarki itu memuncak dengan Idea ’yang baik’. Itulah idea tertinggi yang menyoroti semua idea lain.

2)                 Ajaran tentang Jiwa
Plato menganggap jiwa sebagai pusat atau intisari kepribadian manusia. Dalam anggapannya tentang jiwa, Plato tidak saja dipengaruhi oleh Socrates, tetapi juga oleh Orfisme dan mazhab Pythagorian. Plato berkeyakinan teguh bahwa jiwa manusia bersifat baka. Keyakinan ini bersangkut paut dengan ajarannya tentang idea-idea. Salah satu argumen penting adalah kesamaan yang terdapat antara jiwa dan idea-idea. Jiwa pun mempunyai sifat-sifat yang sama seperti terdapat pada idea-idea.

Jiwa dan tubuh dipandang sebagai dua kenyataan yang harus dibedakan dan dipisahkan. Jiwa berada sendiri. Bagiannya (atau fungsinya) ada tiga yaitu     :
·         Bagian rasional yang dihubungkan dengan kebijaksanaan
·         Bagian kehendak atau keberanian yang dihubungkan dengan kegagahan
·         Bagian keinginan atau nafsu yang dihubungkan dengan pengendalian diri

Disamping itu ada lagi keadilan yang tugasnya ialah keseimbangan antara ketiga bagian jiwa.

Dalam Timaios, Plato menghidangkan kosmologinya. Disini ia membandingkan jagad raya sebagai makrocosmos dan manusia sebagai microcosmos.Dengan itu ia mengambil alih suatu prinsip yang sudah tertanam kuat dalam tradisi Yunani sejak Anaximenes. Seperti manusia terdiri dari tubuh dan jiwa, demikianpun dunia merupakan suatu makhluk hidup yang terdiri dari tubuh dan jiwa. Jiwa dunia diciptakan terlebih dahulu daripada jiwa-jiwa manusia.

3)                 Ajaran Tentang Etika
Bagi Plato, tujuan hidup manusia ialah kehidupan yang senang dan bahagia. Manusia harus mengupayakan kesenangan dan kebahagiaan hidup itu. Menurutnya, kesenangan dan kebahagiaan hidup itu bukanlah pemuasan hawa nafsu selama hidup di dunia inderawi. Plato konsekuen dengan ajarannya tentang dua dunia. Karena itu, kesenangan dan kebahagiaan hidup haruslah dilihat dari hubungan kedua dunia itu.

Sebagaimana yang telah dikemukakan sebelumnya, dunia yang sesungguhnya bagi Plato ialah dunia ide. Sedangkan segala sesuatu yang ada di dunia inderawi hanyalah merupakan realitas bayangan. Selama manusia berada di dunia inderawi, ia senantiasa rindu untuk naik ke atas, ke dunia ide. Maka selama ia hidup, ia harus memiliki pengetahuan yang disempurnakan oleh pengertian yang seluas-luasnya dan sedalam-dalamnya. Ia harus mengupayakan semaksimal mungkin untuk meraih pengetahuan yang benar, karena hanya orang yang memiliki pengetahuan yang benar yang disebut bijaksana dan berbudi baik. Pemahaman lewat pengetahuan yang benar itu akan menuntun mereka yang bijaksana dan berbudi baik sampai kepada pengenalan akan ide-ide yang merupakan kebenaran sejati. Mereka akan senantiasa berupaya untuk menghadirkan dunia ide dengan ide tertingginya yaitu ide kebaikan dan kebajikan di tengah-tengah dunia inderawi.

Dengan demikian jelas terlihat bahwa etika Plato adalah etika yang didasarkan pada pengetahuan, sedangkan pengetahuan hanya mungkin diraih dan dimiliki lewat dan oleh akal budi, maka itulah sebabnya etika Plato disebut dengan etika rasional.

4)                 Ajaran Tentang Negara
Filsafat Plato memuncak dalam uraian-uraiannya mengenai negara yang dilatar belakangi dari pengalaman yang pahit dalam politik Athena. Menurut Plato ada hubungan erat antara ajarannya tentang etika dan teorinya tentang negara. Hidup yang baik menuntut juga negara yang baik. 

Selain Politea dan Nomoi ada karya ketiga lagi, dimana Plato membicarakan persoalan-persoalan yang bertalian dengan negara. Yaitu dialog yang berjudul Politikos. Dialog ini terdiri dari sepuluh buku atau bagian. Pokok-pokok yang diselidiki di dalamnya adalah ’keadilan’.

Plato menunjukkan kecenderungan manusia sebagai makhluk sosial untuk memenuhi kebutuhannya sehingga diperlukan adanya ’spesialisasi’ (pembagian bidang masing-masing). Secara konsekuen Plato berpendirian juga bahwa hanya segolongan orang saja harus ditugaskan melakukan perang untuk keamanan.
Menurut Plato, negara yang ideal terdiri dari tiga golongan  :

1.                  Golongan pertama, penjaga-penjaga yang sebenarnya atau filsuf-filsuf.
2.                  Golongan kedua, pembantu-pembantu atau prajurit-prajurit, mereka ditugaskan menjamin keamanan negara dan mengawasi supaya warga negara tunduk pada filsuf-filsuf.
3.                  Golongan ketiga terdiri dari petani-petani dan tukang-tukang yang menanggung kehidupan ekonomis bagi seluruh polis.
Keadilan adalah keutamaan yang memungkinkan setiap golongan dan setiap warga negara untuk melaksanakan tugasnya masing-masing. Sebagaimana dalam jiwa, keadilan mengakibatkan bahwa ketiga bagian jiwa berfungsi dengan seimbang dan selaras.

Plato berpendapat bahwa dalam negara dimana terdapat Undang-Undang Dasar, bentuk negara yang paling baik adalah Monarki, bentuk negara yang kurang baik adalah aristokrasi, dan bentuk negara yang paling buruk adalah demokrasi. Tetapi jika tidak ada Undang-Undang dasar harus dikatakan sebaliknya. Maksudnya adalah bahwa dalam negara dimana tidak ada undang-undang, demokrasi itu dapat menghindarkan adanya kekuasaan negara yang disalah gunakan.

Plato merupakan salah satu tokoh filsafat (filsuf) yang sangat berpengaruh. Hasil pemikirannya memberi peran yang sangat besar dalam perkembangan ilmu pengetahuan hingga sekarang. Ajaran-ajaran Plato antara lain mengenai idea, jiwa, etika, negara, dan lain-lain. Plato adalah murid Socrates dan juga guru dari Aristoteles yang mengajarkan tentang idea yang bersifat objektif, dimana idea kebaikan dan kebajikan adalah idea yang tertinggi.

Puncak karya filsafatnya adalah mengenai ajarannya tentang negara. Secara umum ajarannya tentang negara yang ideal terdiri dari tiga golongan yaitu      :
1.                  Golongan yang tertinggi, yang terdiri dari orang-orang yang memerintah yang disebut penjaga yang sebaiknya terdiri dari orang bijak (filsuf). Kebajikan golongan ini adalah kebijaksanaan.
2.                  Golongan pembantu, yaitu para prajurit yang bertujuan menjaga keamanan dan menjamin ketaatan warga negara untuk taat kepada para pemimpin (penjaga). Kebajikan mereka adalah keberanian.
3.                  Golongan terendah, yang terdiri dari rakyat biasa, para petani dan tukang serta para pedagang yang harus menanggung hidup ekonomi negara. Kebajikan mereka adalah pengendalian diri.

Mohammad Hatta mengatakan bahwa seorang filosof menulis tentang plato sebagai berikut, “plato pandai berbuat, ia dapat belajar seperti solon dan mengajar seperti Socrates. Ia pandai mendidik pemuda yang ingin belajar dan dapat memikat hati dan perhatian sahabat-sahabat pada dirinya. Murid-muridnya begitu sayang kepadanya seperti ia sayang kepadanya seperti ia sayang kepada mereka. Dia itu bagi mereka adalah sahabat, guru, dan penuntun. Plato tak pernah kawin dan tidak punya anak. Kemenakannya speusippos menggantikannya mengurus academia. Tulisan plato hampir rata-rata berbentuk dialog. Jumlahnya tidak kurang dari 34 buah. Belum lagi tulisan-tulisannya yang berupa surat dan puisi. Yang sukar ditentukan adalah waktu dikarangnya. Semua tulisannya dalam masa lebih dari setengah abad.

Mohammad hatta mengatakan bahwa ada dua pendapat yang terkemuka tentang cara memahamkan buah tangan plato yang sebanyak itu. Yang pertama cara metodik yang dikemukakan oleh FR. Schleier dalam kata pendahuluan bukunya, yang berisikan terjemahan dialog-dialog plato kedalam bahasa jerman (1804-1810 dan 1828). Yang kedua cara genetic, mengikuti perkembangan, yang dikemukakan oleh carl friendrich hermen dalam bukunya tentang sejarah dan system filosofi plato, terbit pada tahun 1839.

Schleiermacher mengatakan bahwa ketegasan plato tidak dapat diketahui dari tulisannya saja. Bagian yang terbesar dari pendapatnya dikemukakannya waktu mengajarkan filsafat. Suatu kenyataan yang tidak dapat dibantah ialah bahwa ajaran yang dibentangkannya kepada pembaca sudah dipahaminya secara mendalam. Jadi, cara dia mengajarkan itu berdasarkan atas suatu rencana metodik. Mula-mula disiapkannya pembacanya dengan pengetahuan elementer. Kemudian, diajaklah pembacanya memikirkan hal-hal itu seterusnya dengan jalan dialektik, sampai akhirnya pikirannya matang tentang masalah itu. Dalam tulisan-tulisannya yang konstruktif. 

Herman tidak begitu pendapatnya. Ia mengatakan bahwa dari tulisan-tulisan plato dapat diikuti perkembangan pemikirannya sendiri. Ia bermula dengan yang kecil dan maju sampai yang besar. Akan tetapi, betapapun berbeda pendirian tentang menangkap buah pikiran plato dan tentang menentukan urutan tulisan dialognya, segala yang ditulisnya itu dapat ditempatkan dalam empat masa dan tiap-tiap masa mempunyai karakteristik sendiri.

SUMBER

Rapar J. H. Filsafat Politik Plato
Salam Burhanuddin. Pengantar Filsafat. Jakarta: Bumi Aksara