Sabtu, 10 Desember 2016

Hedonisme Dikalangan Mahasiswa

Maka timbullah pertanyaan tentang bagaimana sifat hedonisme ini bisa masuk dalam kehidupan mahasiswa. ? lalu seperti apakah penanganan yang tepat dalam menghadapi sifat hedonis ini dalam kalangan mahasiswa. ?
 
Mahasiswa adalah Iron Stock dimana mahasiswa itu di analogikan sebagai suatu asset masa depan yang kokoh yang nantinya bergerak kearah perubahan nyata dalam kehidupan bermasyarakat, karena sejatinya mahasiswa itu berasal dari masyarakat dan kembali kepada massa rakyat. Maka patutlah paradigma berfikir mahasiswa itu tidak bisa disamakan dengan manusia lainnya. Dalam paradigma sosial mahasiswa telah kita sama-sama ketahui bahwa mahasiswa itu memiliki kajian berfikir yang ilmiah, lalu bagaimanakah hedonisme itu sendiri dapat masuk di kalangan mahasiswa. ? menurut pendapat saya, hedonnisme itu dapat masuk di dalam kalangan mahasiswa karena faktor-faktor sebagai berikut:
1.    Faktor Gaya Hidup Mewah
Faktor ini timbul dikarenakan mahasiswa itu selalu ingin memenuhi kehidupan pribadinya dan cenderung tidak ingin di pandang rendah oleh orang sekitarnya. Faktor gaya hidup yang mewah ini pun melahirkan sifat egoisme di kalangan mahasiswa, dimana sifat egoisme ini merupakan pelengkap dari faham hedonisme.  Kenapa demikian. ? Karena faham hedonisme memandang bahwa kebahagiaan itu adalah segala-galanya dan tidak berfikir bagaimana caranya membahagiakan orang-orang yang kesusahan di sekitarnya.
2.    Faktor Afatis
Faktor afatis ini sebenarnya kebalikan dari aktivis, dimana faham aktivis lebih berfikir progressif serta kritis didalam menganalisis dan mengkaji realita-realita disekitarnya dengan analisis yang obyektif dan efisien. Sedangkan afatis lebih memandang realita-realita di sekitarnya tidak berarti apa-apa didalam kehidupannya dan membiarkan realita-realita tersebut berlalu begitu saja seperti angin yang meniup dedaunan dan terjatuh begitu saja, tanpa berfikir serta menganalisis dan mengkaji realita tersebut terlebih dahulu. Lalu apa kaitannya dengan faham hedonisme dikalangan mahasiswa. ? tentu ada kaitannya, karena afatis melahirkan sifat individualis yang berlebihan dari mahasiswa yang memandang segala sesuatu itu harus di telaah dengan perasaan terlebih dahulu. Apakah sesuatu itu dikatakan baik atau tidak oleh perasaan maka itu yang di percayai untuk di lakukan, sementara dalam paradigma mahasiswa menganalisis suatu masalah dengan perasaan pasti berbenturan dengan kondisi subjektif yang menghasilkan rasa malu, sungkan dan lain-lain, maka otomatis hasilnya akan selalu salah dengan realita yang sedang di hadapinya. Dengan begitu mahasiswa lebih memilih hal-hal yang tidak memberatkan fikiran serta daya analisis tinggi di dalam mengkaji realita-realita yang terjadi di sekitarnya dan lebih memilih have fun seperti santai ke pantai, dugem dan shopping sampai jalan-jalan malam yang sebenarnya tidak ada artinya jikalau itu hanya menguras goceng alias duit yang berlebihan.
3.    Faktor Perfectsionis
Faktor perfectsionis timbul karena adanya faktor gaya hidup mewah yang mengharuskan mahasiswa itu mengikuti style kehidupan modern saat ini, terlebih dengan kemajuan teknologi baru yang mau tidak mau mahasiswa itu bersaing didalam mendapatkan teknologi baru tersebut yang tujuannya hanya memuaskan kehidupan pribadi mahasiswa itu sendiri agar tidak di anggap remeh oleh orang disekitarnya, padahal menjadi mahasiswa itu tidak sekedar ngmpus dan hanya mendapatkan ilmu yang hanya sedikit saja tanpa didukung oleh ilmu lainnya di sekitar kampus seperti masuk organisasi. Kaitannya dengan hedonisme dalam kalangan mahasiswa, karena sifat perfectsionisme sangat dekat hubungannya dengan faham hedonisme itu sendiri. Terlebih faham hedonisme menganggap bahwa kebahagiaan itu lah tujuan hidupnya serta tolak ukur tindakan manusia maka secara tidak langsung menghasilkan sifat perfectsionis yang memandang bahwa kesempurnaan dalam segala hal itu adalah merupakan sebuah keharusan dalam hidupnya. Tanpa memandang bahwa orang sekitarnya yang lebih membutuhkan belaian kasih akan kehidupan yang bahagia juga sering kali di abaikan olehnya.
4.    Faktor Lingkungan
Faktor lingkungan sangat menentukan keperibadian mahasiswa, karena lingkungan adalah tempat dimana mahasiswa bergaul dan berinteraksi dengan orang-orang sekitarnya. Lingkungan yang apatis akan memaksa mahasiswa menjadi manusia yang tidak mau tau akan realita-realita di sekitarnya alias cuek-cuek aja. Dan biasanya lingkungan mahasiswa yang apatis ini akan menjadi mahasiswa yang kupu-kupu (kuliah pulang - kuliah pulang). Kerjaannya Cuma kuliah dan kuliah lalu pulang begitu saja tanpa memikirkan bagaimana ia berinteraksi secara lebih dengan mahasiswa lain dan sangat tidak peduli akan organisasi-organisasi di dalam perkuliahan yang sejatinya mendewasakan fikirannya serta tindakannya di kemudian hari. Prilaku apatis seperti itu cenderung rentan diserang oleh hedonisme, karena faham hedonis yang sejatinya mengkuantitaskan kesenagan itu akan cenderung lupa bagaimana caranya berinteraksi dengan lingkungan sekitarnya dan mudah terjebak oleh situasi dan kondisi dimana situasi tersebut diambil alih oleh perilaku hedonis dan melupakan analisis ilmiahnya sebagai mahasiswa yang menjadikannya dewasa dalam berfikir serta berperan sesuai dengan paradima mahasiswa itu sendiri.
5.    Faktor Gaya Hidup Bebas
Gaya hidup bebas mahasiswa sangat rentan diserang hedonisme, karena gaya hidup bebas sangat memperioritaskan kesenangan duniawi yang sebetulnya hanya sesaat dan tidak mempunyai makna yang signifikan kepada mahasiswa itu sendiri. Dalam tindakannya sehari-hari, gaya hidup bebas ini cenderung mengambil tindakan yang ringan-ringan serta tidak mau mengambil resiko yang terlau memberatkan fikirannya. Tindakan seperti itu sangat persis dengan tindakan faham hedonis yang memandang bahwa segala sesuatu itu tidak memberatkan jiwa dan raga dalam kehidupan sehari-hari. Pantaslah mahasiswa yang kehidupannya tertlalu bebas dan glamour itu lebih memilih posisi aman serta tidak mau memacu maneuver dia dalam tindakan-tindakannya yang membawa kebahagiaan bagi orang-orang di sekitarnya.
Selanjutnya langkah-langkah seperti apakah yang seharusnya ditempuh oleh mahasiswa dalam menghadapi faham hedonis yang sejatinya merusak paradigma berfikir mahasiswa dalam kehidupannya sebagai agen of change dan agen of control ditengah-tengah masyarakat kampus maupun di luar masyarakat kampus. ? berikut langkah-langkahnya yang menurut saya bisa mengurangi sifat hedonis dalam kalangan mahasiswa.
1)   Kritis Dalam Bertindak dan Bertinngkah Laku
Menjadi mahasiswa yang kritis dan peka terhadap lingkungan adalah bukan sebuah pilihan, melainkan sebuah keharusan. Karena dengan kita menjadi mahasiswa yang kritis kita mampu mengkaji serta mengambil tindakan yang tepat dan efisien dalam menghadapi masalah-masalah yang menghadapii kita. Dengan begitu paradigma berfikir mahasiswa akan menjadi sebuah praktek yang nyata dan bukan menjadi sebuah wacana belaka. Maka dengan begitu pula secara tidak langsung kita dapat memarginalkan hedonisme didalam kehidupan mahasiswa dan beralih kepada perilaku-perilaku yang positif serta dapat membantu sesama dengan keikhlasan dan keyakinan yang teguh akan perubahan.
2)   Menerapkan Gaya Hidup Sederhana
Menerapkan gaya hidup yang sederhana adalah salah satu pilihan alternative dalam membasmi hedonisme dikalangan mahasiswa, pasalnya dengan menerapkan gaya hidup yang sederhana, orientasinya lebih akurat serta tidak terlalu memberatkan fikiran serta terkesan lebih menarik dimata orang lain. Pola hidup sederhana juga memberi pengaruh yang signifikan terhadap pergaulan mahasiswa dengan mahasiswa lainnya, karena di pandang sangat supple dalam bergaul dan tidak memandang lawan bergaul dari segi apapun. Itulah alasan pola perilaku sederhana itu sangat berpengaruh terhadap penghapusan hedonisme dalam kalangan mahasiswa.
3)   Kontrol Pengeluaran Bahan Produksi
Pengeluaran bahan produksi disini maksudnya adalah modal yang berbentuk materil maupun non materil, bahan materil disini maksudnya seperti uang, sedangkan bahan produksi yang non materil itu berupa selain dari uang seperti tenaga dan alat transportasi. Lalu bagaimanakah cara kita mengontrol bahan produksi tersebut dalam kehidupan kita sehari-hari dalam masyarakat kampus maupun masyarkat di luar kehidupan kampus. ? Jawabannya ada pada paradigma berfikir mahasiswa itu sendiri. Disinilah praktek nyata dari acuan berfikir seorang mahasiswa itu dalam mengontrol segala yang menjadi perioritas utamanya. Maka secara tidak langsung sifat hedonisme itu dapat di cegah oleh mahasiswa itu dengan mengontrol dan memikirkan  secara ilmiah tentang segala resiko yang akan ddiambil kelaknya.
            Pada intinya pencegahan hedonisme dalam mahasiswa itu terletak padakeyakinan (trust) yang teguh serta praktek yang nyata dari mahasiswa itu sendiri. Itu lah beberapa cara yang mungkin dapat meminimalisir budaya hedonis itu timbul dalam dunia kemahasiwaan.

Paham Hedonisme

Hedonisme adalah suatu faham yang memandang bahwa kesenangan itu adalah segala-galanya dan sebisa mungkin menghindari kesedihan, kesengsaraan, serta hal-hal yang menyakitkan. Kata hedonisme sendiri berasal dari kata yunani yaitu hedonismos dari akar kata hedone artinya kesenangan. Faham ini berusaha menjelaskan bagaimana memuaskan manusia tentang kesenangan yang sesungguhnya yang menjadi arah dan tindakan manusia itu sendiri didalam menjalani kehidupannya sehari-hari.
 
Faham hedonis pada zaman modern ini sangat berkembang pesat dikalangan mahasiswa, pasalnya banyak diantara mahasiswa yang menyukai gaya hidup yang komplit tanpa kekurangan sedikit pun serta gaya hidup yang terlalu konsumtif. Padahal tanpa disadari gaya hidup seperti itu akan merusak pandangan berfikir mahasiswa menjadi semakin apatis tentang lingkungannya serta cenderung egois terhadap sekitarnya.
 
Sejatinya paradigma berfikir mahasiswa itu lebih cenderung progresif dan kritis dalam menganalisis dan mengkaji kehidupan sosialnya, baik itu kehidupan di dalam kampus maupun di luar kampusnya. Akan tetapi peran serta tanggung jawab mahasiswa yang sejatinya dijuluki Agen of Change (agen perubahan) dan Agen of Control (agen pengontrol) seakan sirna di telan zaman dikarenakan sifat hedonisme meracuni kehidupan mahasiswa.

4 Tahapan Berfilsafat

1.     LOGIS
logis dalam ranah berfilsafat yaitu berpikir dengan menggunnakan logika (undang-undang berpikir) yaitu melalui tiga tahap; pemahaman, keputusan dan argumentasi.
Contoh:
-        Alam berubah-ubah (premis minor)
-        Setiap berubah-ubah baru (premis mayor)
-        Alam baru (simpulan)
 
2.     SISTEMATIS
Sistematis dalam ranah berfilsafat yaitu berpikir melalui alur yang sistemik sehingga ditemukan adanya koheren (saling runtut), diantara satu pertanyaan dengan pertanyaan lainnya. 
 
3.     RADIKAL
Radikal dalam ranah berfilsafat yaitu berpikir sampai kepada akar masalah. 
 
4.     UNIVERSAL
Universal dalam ranah berfilsafat yaitu berpikir secara umum bukan khusus. Disini perbedaannya ilmu berpikir secara khusus filsafat berpikir secara umum.

Perbedaan Perkembangan dan Pertumbuhan

  Perkembangan dan pertumbuhan adalah sesuatu yang tidak terlepaskan dari dalam diri seseorang. Dalam hal ini perkembangan dan pertumbuhan sering digunakan orang secara “interchangeably”, maksudnya kedua istilah itu dipakai secara silih berganti dengan maksud yang sama. Sebenarnya, masing-masing istilah ini mempunyai pengertian yang berbeda, dan perbedaan ini masih jarang diperhatikan orang, begitu pula oleh sebagian besar para ahli atau penulis tentang psikologi pendidikan.
 
Pengertian perkembangan
Istilah perkembangan (development) dalam psikologi merupakan sebuah konsep yang cukup rumit dan kompleks. Didalamnya terkandung banyak dimensi. Oleh karena itu, untuk dapat memahami konsep perkembangan, perlu terlebih dahulu memahami beberapa konsep lain yang terkandung didalamnya.
Van den Daele mendefinisikan perkembangan berarti perubahan secara kualitatif. Ini berarti bahwa perkembangan bukan sekedar penambah beberapa sentimeter pada tinggi badan seseorang tau peningkatan seseorang, melainkan suatu proses integrasi dari banyak struktur dan fungsi yang kompleks (Van den Daele 1976: 128).

Pengertian pertumbuhan
Secara sederhana, Seifert dan Hoffnung (1994) mendefinisikan pertumbuhan sebagai “long-term changes in a person’s growth, feelings, pattens, of thinking, sosial relationship, and motor skills”.
Aspek-aspek yang mempengaruhi pertumbuhanyaitu: 1) Anak sebagai keseluruhan. 2) Umur mental anak mempengaruhi pertumbuhannya. 3)  Permasalahan tingkah laku sering berhubungan dengan pola-pola pertumbuhan. 4)  Penyesuaian pribadi dan sosial mencerminkan dinamika pertumbuhan.
 

Hubungan Filsafat Dengan Sosiologi Ilmu

Individu yang lahir dalam lingkup masyarakat tentunya sangat membutuhkan orang lain. Individu tersebut berinteraksi dengan masyarakat sepanjang hidupnya. Masyarakat adalah tempat kepribadian mereka tumbuh. Dari pengalamannya di masyarakat seseorang dapat mengetahui cara memenuhi kebutuhan hidupnya, mengenal hal-hal yang baik dan buruk serta mengetahui aturan-aturan dan norma-norma yang berlaku di masyarakat. Interaksi manusia dalam masyarakatnya juga menimbulkan suatu ilmu yang bernama sosiologi. "Sosiologi" terdiri dari dua kata: socius, yang berarti pendamping atau asosiasi, dan logo, yang berarti ilmu atau belajar. Makna etimologis dari "sosiologi" demikian ilmu masyarakat.
 
Bangsa barat Auguste Comte sebagai Bapak Sosiologi Modern.  Ia mengatakan bahwa Kajian tentang kehidupan sosial manusia disebut dengan kata sisiologi. Karena manusia yang menjadi objek kajian sosiologi itu bersifat dinamis maka para pemikir meninjau pengertian sosiologi dari berbagai sudut pandang, antara lain:
 
1.     Max weber, sosiologi adalah ilmu yang berupaya memahami tindakan-tindakan sosial. Tindakan sosial adalah tindakan yang dilakukan dengan mempertimbangkan dan berorientasi pada perilaku orang lain.
 
2.    Selo Soemirdjan dan Soelaeman Soemardi, menurut mereka sosiologi adalah ilmu kemasyarakatan yang mempelajari struktur sosial dan proses-proses sosial termasuk perubahan sosial.
 
3.    Soerjono soekanto, sosiologi merupakan ilmu yang memusatkan perhatian pada segi-segi kemasyarakatan yang bersifat umum dan berusaha untuk mendapatkan pola-pola umum kehidupan masyarakat.
 
Dari pengertian di atas dapat disimpulkan bahwa sosiologi adalah ilmu tentang masyarakat dimana di dalamnya mempelajari tentang pola tingkah laku seseorang dengan lingkungannya. Sosiologi memaknai metode observasi dan berusaha menerangkan sebab-musabab suatu gejala sosial yang konkrit dari keadaannya yang lebih luas. Maka sosiologi tetap berada di bidang kejadian yang dapat diobservasi. Dari pernyataan tersebut menimbulkan suatu pemahaman bahwa dalam mencari atau menemukan ilmu sosiologi berawal dari kegiatan berpikir, mencari tahu dan melakukan observasi. Proses pencarian tersebut dapat juga dianamakan sebagai proses berfilsafat. Lalu, apakah filsafat dan sosilogi itu berhubungan? Ya benar. Hal ini akan di jelaskan sebagai berikut.
 
Hubungan antara filsafat ilmu dan sosiologi ilmu. Sosiologi ilmu adalah sebuah disiplin yang secara teoritis berusaha menganalisis kaitan antar pengetahuan dengan kehidupan secara metodologis berupaya menelusuri bentuk-bentuk yang diambil oleh kaitan itu dalam perkembangan intelektual manusia. Sosiologi adalah ilmu sosial yang dulunya berinduk pada ilmu filsafat. Dengan demikian pokok=pokok pikiran sosiologi tidak bisa terlepas dari pemikiran para ahli filsafat yang mengkaji tentang kehidupan manusia. Sudah menjadi sifat bawaannya, bahwa sosiologi sejak berkembang hingga dewasa ini menjadi disiplin yang berdiri sendiri, yang selalu berada di dalam suasana pergulatan pemikiran dikalangan tokoh-tokohnya. Sosiologi memberikan informasi yang cukup tentang adanya keterkaitan antara proses keilmuan tertentu dengan faktor-faktor lain diluar keilmuan misalnya ideologi, tradisi keagamaan, otoritas politik, ekonomi dan lain-lain. Dimana kita mengetahui pada zaman Thales yakni ketika dia berhenti di wilayah Mesir, dia melihat keadaan masyarakat dimana mereka sangat membutuhkan air, dari situlah muncul pernyataan dia bahwa air adalah sesuatu yang penting setelah dia melihat keadaan di wilayah tersebut. Inilah yang menjadikan filsafat sangat berhubungan dengan sosiologi.

Hubungan Filsafat Dengan Pendidikan

Filsafat dan pendidikan merupakan dua hal yang tidak dapat dipisahkan. Menurut Brauner dan Burns (Problem in Education Philosophy) bahwa pendidikan dan filsafat itu tidak dapat dipisahkan karena yang dijadikan sasaran/tujuan pendidikan adalah juga dijadikan sasaran/tujuan filsafat yaitu kebijaksanaan. Filsafat sebagai ilmu karena di dalam pengertian filsafat mengandung empat pertanyaan ilmiah, yaitu: bagaimanakah, mengapakah, kemanakah, dan apakah.

Pertanyaan bagaimana menanyakan sifat-sifat yang dapat ditangkap atau yang tampak oleh indera. Jawaban atau pengetahuan yang diperolehnya bersifat deskripsi (penggambaran)
Pertanyaan mengapa menanyakan tentang sebab (asal mula) suatu objek. Jawaban atau pengetahuan yang diperolehnya bersifat kausalitas (sebab akibat).

Pertanyaan ke mana menanyakan tentang apa yang terjadi dimasa lampau, masa sekarang, dan masa yang akan datang. Jawaban yang diperoleh ada tiga jenis pengetahuan, yaitu:
  • Pertama, pengetahuan yang timbul dari hal-hal yang selalu berulang-ulang (kebiasaan), yang nantinya pengetahuan tersebut dapat dijadikan sebagai pedoman.
  • Kedua, pengetahuan yang timbul dari pedoman yang terkandung dalam adat istiadat/kebiasaan yang berlaku dalam masyarakat.
  • Ketiga, pengetahuan yang timbul dari pedoman yang dipakai (hukum) sebagai suatu hal yang dijadikan pegangan. Tegasnya pengetahuan yang diperoleh dari jawaban kemanakah adalah pengetahuan normatif.
Pertanyaan apakah yang menanyakan tentang hakikat atau inti mutlak dari suatu hal. Hakikat ini sifatnya sangat dalam (radix) dan tidak lagi bersifat empiris, sehingga hanya dapat dimengerti oleh akal.
Lebih lanjut Kilpatrick dalam bukunya “Philosophy of Education”, menjelaskan bagaimana hubungan filsafat dengan pendidikan sebagai berikut:
“Berfilsafat dan mendidik adalah dua fase dalam satu usaha; berfilsafat adalah memikirkan dan mempertimbangkan nilai-nilai dan cita-cita yang lebih baik, sedangkan mendidik adalah usaha merealisasikan nilai-nilai dan cita-cita itu dalam kehidupan, dalam kepribadian manusia. Mendidik adalah mewujudkan nilai-nilai yang dapat disumbangkan oleh filsafat, dimulai dengan generasi muda; untuk membimbing rakyat membina nilai-nilai di dalam kepribadian mereka, dan dengan cara ini pula cita-cita tertinggi suatu filsafat dapat terwujud dan melembaga di dalam kehidupan mereka.”
Dengan demikian jelaslah bahwa filsafat dan pendidikan itu tidak dapat dipisahkan. Dalam hal ini filsafatlah yang menetapkan konsep, ide-ide dan idealisme atau ideologi yang dibutuhkan sebagai dasar/landasan dan tujuan pendidikan. Dan pendidikan merupakan usaha yang mengupayakan agar ide-ide tersebut menjadi kenyataan, tindakan, tingkah laku, dan bahkan membina kepribadian. Atas dasar pemahaman itu pula maka filsafat Pancasila selain diakui sebagai dasar dan ideologi negara dan pandangan hidup bangsa, tetapi juga Pancasila dijadikan filsafat dan dasar pendidikan di Indonesia.
Sebagai dasar dan filsafat pendidikan berarti Pancasila harus dijadikan landasan pemikiran dan dasar pertimbangan dalam merumuskan kebijakan-kebijakan dalam pelaksanaan pendidikan di Indonesia; dan juga harus dijadikan dasar pijakan/moral bagi pendidik (menjadi filsafat pendidik) di dalam melaksanakan kegiatan pendidikan atau kegiatan belajar mengajar di sekolah.

Memahami Filsafat

1.     Dari Sisi Kebahasaan
Kata filsafat berasal dari bahasa Yunani, yaitu Philosophia. Philo=cinta, Sophia=kebijakan/kebenaran. Jadi philosphia adalah orang yang mencintai kebenaran, sehingga berupaya memperoleh dan memilikinya.
Kata philosophia ditransformasikan ke berbagai bahasa. Dalam bahasa Arab disebut falsafah. Dalam bahasa Indonesia disebut falsafah/filsafat. Dalam bahasa Belanda dan jerman disebut Philosophie.
2.     Dari Sisi Filsafat Sebagai Ilmu
·       Plato filsuf besar Yunani mengatakan, filsafat adalah ilmu pengetahuan yang berusaha mencapai kebenaran yang asli, karena kebenaran mutlak di tangan Tuhan. Atau dengan singkat dikatakan pengetahua tentang segala yang ada.
·       Aristoteles murid Plato mengatakan, filsafat adalah ilmu pengetahuan yang meliputi kebenaran yang terkandung di dalamnya ilmu metafisika, logika, retorika, politik, sosial budaya dan estetika.
·       Alfarabi. Filsuf besar muslim dengan gelar Aristoteles ke 2, mengatakan filsafat adalah pengetahuan tentang yang ada menurut hakikatnya yang sebenarnya.
·       Immanuel Kant. Filsuf barat dengan gelar raksasa pemikir Eropa, mengatakan filsafat adalah ilmu pokok dan pangkal segala pengetahuan yang mencakup di dalamnya empat persoalan.
1.     Apa dapat kita ketahui, dijawab oleh metafisika.
2.     Apa yang boleh kita kerjakan, dijawab oleh etika dan estetika.
3.     Apa yang dinamakan manusia, dijawab oleh antropologi.
4.     Sampai dimana harapan kita dijawab oleh agama.
·       Hasbullah Bakry, filsafat adalah ilmu yang menyelidiki segala sesuatu dengan mendalam mengenai Ketuhanan, alam semesta, dan manusia sehingga dapat melahirkkan pengetahuan tentang bagaimana hakikatnya sejauh yang dicapai manusia.
3.     Filsafat dari Sisi Benda
·       Titus dkk mengajukan dua pengertian filsafat.
-        Filsafat adalah sekumpulan problem-problem yang langsung dan mendapat perhatian dan manusia yang dicarikan jawabannya oleh ahli filsafat.
-        Filsafat adalah sekumpulan sikap dan kepercayaan terhadap kehidupan dan alam yang biasanya diterima secara kritis.
4.     Filsafat sebagai suatu aktifitas
·       Filsafat adalah sebagai suatu proses berpikir untuk memperoleh jawaban-jawaban dari berbagai problem.
·       Titus dkk, membagi 3 pengertian filsafat sebagai aktifitas:
-        Filsafat adalah suatu proses kritik atau pemikiran terhadap kepercayaan dari sikap yang sangat kita junjung tinggi.
-        Filsafat adalah sebagai analisi logis dari bahasa serta penjelasan tentang arti kata dan konsep.
-        Filsafat adalah suatu usaha untuk memperoleh gambaran keseluruhan.